DESKRIPSI GANGGUAN KEPRIBADIAN BESERTA TRITMENNYA
A. PENGERTIAN TRITMEN
Tritmen hakekatnya adalah metode atau teknik
penyembuhan tertentu yang dibangun oleh suatu teori, karena itu sifatnya sangat
beragam tergantung kepada teori-teori yang mendasarinya. Dalam konseling tritmen merupakan aspek
mendasar yang harus dikuasai sebagai pengetahuan dan ketrampilan profesi.
Dibawah ini dijelaskan beberapa tritmen
terhadap gangguan kepribadian:
1.
Gangguan kepribadian menghindar
Orang dengan gangguan kepribadian menghindar
menunjukkan kepekaan yang ekstrim terhadap penolakan, yang dapat menyebabkan
penarikan diri dari kehidupan sosial. Sebenarnya mereka tidak asosial karena
menunjukkan keinginan yang kuat untuk berteman tetapi mereka malu; mereka
memerlukan jaminan yang kuat dan penerimaan tanpa kritik yang tidak lazim.
Orang dengan gangguan ini menginginkan hubungan dengan orang lain yang hangat
dan aman tapi membenarkan penghindaran mereka untuk membentuk persahabatan
kerena perasaan ketakutan mereka akan penolakan.
Mereka mudah sekali keliru dalam
mengartikan komentar orang lain, seringkali komentar dari orang lain dianggap
sebagai suatu penghinaan atau ejekan. Pada umumnya sifat dari orang dengan
gangguan kepribadian menghindar adalah seorang yang pemalu. Menurut teori
kognitif-behavioral, pasien sangat sensitif terhadap penolakan karena adanya
pengalaman masa kanak-kanak, misalnya : karena mendapat kritik yang pedas dari
orang tua (Martaniah, 1999 : 77).
Tritment yang dapat diberikan yaitu
(Kaplan & Saddock, 1997 : 263):
a. Psikoterapi.
Ahli terapi mendorong pasien untuk ke luar ke dunia untuk melakukan apa yang
dirasakan mereka memiliki resiko tinggi penghinaan, penolakan dan kegagalan.
Tetapi ahli terapi harus berhati-hati saat memberikan tugas untuk berlatih keterampilan
sosial yang baru di luar terapi, karena kegagalan dapat memperberat harga diri
pasien yang telah buruk. Terapi kelompok dapat membantu pasien mengerti efek
kepekaan mereka terhadap penolakan pada diri mereka sendiri dan orang lain.
Melatih ketegasan adalah bentuk terapi perilaku yang dapat mengajarkan pasien
untuk mengekspresikan kebutuhan mereka secara terbuka dan untuk meningkatkan
harga diri mereka.
b. Farmakoterapi.
Beberapa pasien tertolong oleh penghambat beta, seperti atenolol (Tenormin),
untuk mengatasi hiperaktivitas sistem saraf otonomik, yang cenderung tinggi
pada pasien dengan gangguan kepribadian menghindar, khususnya jika mereka
menghadapi situasi yang menakutkan.
2.
Gangguan kepribadian dependen
Orang dengan gangguan kepribadian dependen,
menempatkan kebutuhan mereka sendiri dibawah kebutuhan orang lain. Meminta
orang lain untuk mengambil tanggung jawab untuk masalah besar dalam kehidupan
mereka, tidak memiliki kepercayaan diri dan mungkin mengalami rasa tidak nyaman
yang kuat jika sedang sendirian lebih dari suatu periode yang singkat. Gangguan
ini lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria, dan lebih sering
terjadi pada anak yang lebih kecil jika dibandingkan yang lebih tua. Gangguan
kepribadian dependen ditandai oleh ketergantungan yang pervasif dan perilaku
patuh. Orang dengan gangguan ini tidak mampu untuk mengambil keputusan tanpa
nasehat dan pertimbangan yang banyak dari orang lain. Pesimisme, keraguan diri,
pasivitas, dan ketakutan untuk mengekspresikan perasaan seksual dan agresif
menandai perilaku gangguan kepribadian dependen (Kaplan & Saddock, 1997 :
263-264).
Menurut teori psikodinamika, gangguan
ini timbul karena adanya regresi atau fiksasi pada masa oral karena orang tua
yang sangat melindungi atau orang tua yang mengabaikan kebutuhan tergantung.
Pendekatan kognitif-behavioral mengemukakan bahwa penyebabnya adalah karena
kurang asertif dan kecemasan dalam membuat keputusan (Martaniah, 1999 : 77).
Tritment
yang dapat diberikan yaitu (Kaplan & Saddock, 1997 : 265):
a. Psikoterapi.
Terapi gangguan kepribadian dependen seringkali berhasil, yaitu dengan proses
kognitif-behavioral, dengan menciptakan kemandirian pada pasien, melatih
ketegasan dan menumbuhkan rasa percaya diri. Terapi perilaku, terapi keluarga
dan terapi kelompok semuanya telah digunakan dengan keberhasilan pada banyak
kasus.
b. Farmakoterapi.
Pasien yang mengalami serangan panik atau memiliki tingkat kecemasan perpisahan
yang tinggi mungkin tertolong oleh imipramine (Tofranil). Benzodiazepine dan
obat serotonergik dapat berguna.
3.
Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif
Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif
ditandai oleh penyempitan emosional, ketertiban, kekerasan hati, sikap keras
kepala dan kebimbangan. Gangguan ini sering terjadi pada pria dan sering pada anak
tertua. Orang dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif memiliki keasyikan
dengan keteraturan, kebersihan, perincian dan pencapaian kesempurnaan. Biasanya
orang tersebut resmi dan serius dan seringkali tidak memiliki rasa humor.
Mereka memaksakan aturan supaya diikuti secara kaku dan tidak mampu untuk
mentoleransi apa yang dirasakannya sebagai pelanggaran. Karena takut mereka
melakukan kesalahan, mereka mengalami kebimbangan dan berpikir dalam waktu yang
lama untuk mengambil suatu keputusan.
Orang dengan gangguan obsesif-kompulsif
dapat bekerja dengan baik dalam posisi yang membutuhkan pekerjaan metodologis,
deduktif atau terperinci. Tetapi mereka rentan terhadap perubahan yang tidak
diharapkan. Dilihat dari teori kognitif-behavioral, pasien gangguan ini
mempunyai perhatian yang tidak realistik mengenai perfeksitas dan penolakan
terhadap kesalahan. Kalau gagal dalam mencapai perfeksitas, ia menganggap
dirinya tidak berharga (Martaniah, 1999 : 79).
Tritment yang dapat diberikan yaitu
(Kaplan & Saddock, 1997 : 267):
a. Psikoterapi.
Tidak seperti gangguan kepribadian lainnya, pasien gangguan kepribadian
obsesif-kompulsif seringkali tahu bahwa mereka sakit dan mencari pengobatan
atas kemauan sendiri. Asosiasi bebas dan terapi yang tidak terlalu mengarahkan sangat
dihargai oleh pasien gangguan ini. Terapi kelompok dan terapi perilaku biasanya
memberikan manfaat tertentu. Pada kedua konteks, mudah untuk memutuskan pasien
ditengah-tengah interaksi atau penjelasan maladaptif mereka. Melengkapi
perilaku kebiasaan mereka mencegah meningkatkan kecemasan pasien dan
menyebabkan mereka mudah mempelajari strategi baru.
b. Farmakoterapi.
Clonazepam (Klonopin) adalah suatu benzodiazepine dengan antikonvulsan,
pemakaian obat ini untuk menurunkan gejala pada pasien dengan gangguan
kepribadian obsesif-kompulsif parah. Clomipramine (Anafranil) dan obat
serotonergik tertentu seperti fluoxetine mungkin berguna jika tanda dan gejala
obsesif-kompulsif timbul.
Selain gangguan kepribadian yang telah
disebutkan di atas, juga ada gangguan kepribadian yang tidak ditentukan dimana
dalam DSM IV dicadangkan untuk gangguan yang tidak memenuhi ke dalam salah satu
gangguan yang telah dijelaskan sebelumnya. Gangguan kepribadian yang dimaksud
adalah:
3.
Gangguan kepribadian pasif-agresif
Orang dengan gangguan kepribadian
pasif-agresif ditandai oleh obstruksionisme (senang menghalang-halangi),
menunda-nunda, sikap keras kepala dan tidak efisien. Perilaku tersebut adalah
manifestasi dari agresi yang mendasari, yang diekspresikan secara pasif. Pasien
gangguan kepribadian pasif-agresif secara karakteristik adalah suka
menunda-nunda, tidak menerima permintaan untuk kinerja yang optimal, tidak
bersedia meminta maaf, dan cenderung untuk mencari kesalahan pada diri orang
lain walaupun pada orang tempat mereka bergantung; tetapi mereka menolak untuk
melepaskan mereka sendiri dari hubungan ketergantungan. Mereka biasanya tidak
memiliki ketegasan tentang kebutuhan dan harapan mereka. Orang dengan gangguan
ini tidak memiliki kepercayaan pada diri sendiri dan biasanya pesimistik akan
masa depan (Kaplan & Saddock, 1997 : 268).
Mereka memendam rasa amarah dan
permusushan yang diekspresikan dengan cara tidak langsung tapi menggunakan cara
yang menyakitkan. Tidak sensitif terhadap kritik dan selalu menganggap dirinya
benar. Dari sudut kognitif-behavioral, pasif-agresif berkembang dari
kepercayaan bahwa ekspresi terbuka dan kemarahan adalah berbahaya. Menuntut
orang lain harus tahu apa yang diinginkan, tanpa ia memintanya (Martaniah 1999
: 79).
Tritment yang dapat diberikan yaitu
(Kaplan & Saddock, 1997 : 269):
a. Psikoterapi.
Dapat dilakukan dengan memberikan terapi supportif, untuk memunculkan motivasi
pada diri pasien. Ahli terapi harus menyatakan kemungkinan-kemungkinan yang
akan terjadi sebagai akibat dari perilaku pasif-agresif yang mereka lakukan.
b. Farmakoterapi.
Antidepresan harus diresepkan jika indikasi klinis depresi dan kemungkina bunuh
diri. Beberapa pasien berespon terhadap benzodiazepine, psikostimulan,
tergantung pada keadaan klinis.
4.
Gangguan kepribadian depresif
Orang dengan gangguan kepribadian
depresif adalah orang yang pesimistik, anhedonik, terikat pada kewajiban,
meragukan diri sendiri dan tidak gembira secara kronis. Penyebab gangguan
kepribadian depresif tidak diketahui, tetapi faktor yang terlibat dalam
gangguan distimik dan gangguan depresif berat mungkin bekerja.
Teori psikologis melihat adanya
kehilangan pada awal kehidupan, pengasuhan orang tua yang buruk, superego yang
menghukum, dan perasaan ekstrim. Deskripsi klasik tentang kepribadian depresif
diajukan tahun 1963 oleh Arthur Noyes dan Laurence Kolb, “Mereka
merasakan kegembiraan kehidupan yang normal tapi hanya sedikit, dan cenderung
kesepian dan serius, bermuram durja, patuh, pesimistik dan rendah diri. Mereka
rentan untuk mengekspresikan penyesalan dan perasaan ketidakberdayaan dan putus
asa. Mereka seringkali teliti, perfeksionistik, sangat berhati-hati, asyik
dengan pekerjaan, merasa bertanggung jawab dengan tajam, dan mudah berkecil
hati di kondisi yang baru. Mereka ketakutan akan celaan, cenderung menderita
dalam kesepian dan kemungkinan mudah menangis, walaupun biasanya tidak di
hadapan orang lain. Suatu kecenderungan untuk merasa ragu-ragu, tidak dapat
mengambil keputusan dan berhati-hati menghianati perasaan ketidakamanan yang melekat&rdquo.
H. Akiskal menggambarkan 7 kelompok
sifat depresif : (1) tenang introvert, pasif, tidak sombong; (2) bermuram
durja, pesimistik, serius, dan tidak dapat merasakan kegembiraan; (3)
mengkritik diri sendiri, menyalahkan diri sendiri, dan menghina diri sendiri;
(4) bersifat ragu-ragu, kritik orang lain, sukar untuk memaafkan; (5)
berhati-hati, bertanggung jawab dan disiplin diri; (6) memikirkan hal yang
sedih dan merasa cemas; (7) asyik dengan peristiwa negatif, perasaan tidak
berdaya dan kelemahan pribadi (Kaplan & Saddock, 1997 : 270).
Tritment yang dapat diberikan yaitu
(Kaplan & Saddock, 1997 : 270):
a. Psikoterapi.
Terapi kognitif membantu pasien mengerti manifestasi kognitif dari perasaan
rendah diri dan pesimisme mereka. Beberapa pasien mempunyai respon terhadap
tindakan menolong diri sendiri.
b. Farmakoterapi.
Dengan pemakaian antidepresan, khususnya obat sorotonergik tertentu seperti
sertraline (Zoloft).
5.
Gangguan kepribadian sadomasokistik
Gangguan ini bukan merupakan diagnosis
resmi dalam DSM IV atau spendiksnya, tetapi dapat didiagnosis sebagai gangguan
kepribadian yang tidak diklasifikasikan. Sadisme (berasal dari nama seorang
penulis di abad ke-18 yaitu Marquis de Sade, yang menulis tentang orang yang
mengalami kenikmatan seksual saat menyiksa orang lain) adalah keinginan untuk
menyebabkan rasa sakit pada orang lain baik secara penyiksaan seksual atau
fisik atau penyiksaan psikologi pada umumnya. Sigmund Freud percaya bahwa
pasien sadisme untuk mencegah kecemasan kastrasi dan mampu untuk melakukan
kepada orang lain apa yang mereka takutkan akan terjadi pada diri mereka.
Sedangkan masokisme (nama mengikuti
Leopold von Sacher-Masoch, seorang penulis novel yang berasal dari Austria abad
ke-19) adalah pencapaian pemuasan seksual dengan menyiksa diri sendiri. Pada
umumnya, yang dinamakan penderita masokisme moral mencari penghinaan dan
kegagalan, bukannya sakit fisik.
Menurut Sigmund Freud, kemampuan
penderita masokisme untuk mencapai orgasme terganggu oleh kecemasan dan
perasaan bersalah tentang seks dan perasaan tersebut dihilangkan oleh
penderitaan dan hukuman pada diri mereka sendiri. Pengamatan klinis menyatakan
bahwa elemen perilaku sadisme dan masokisme biasanya ditemukan pada orang yang
sama.
Tritment yang dapat diberikan yaitu:
Psikoterapi. Terapi psikoanalisis
efektif pada beberapa kasus. Sebagai hasil terapi, pasien menjadi menyadari
bahwa kebutuhan menghukum diri sendiri adalah sekunder akibat perasaan bersalah
bawah sadar yang berlebihan dan juga menjadi mengenali impuls agresif mereka
yang terepressi, yang berasal dari masa anak-anak awal.
6.
Gangguan kepribadian sadistik
Gangguan kepribadian sadistik adalah
suatu tambahan yang kontroversial pada apendiks DSM III-R, dan tidak dimasukkan
di dalam DSM IV. Orang dengan gangguan kepribadian sadistik menunjukkan pola
kekejaman yang pervasif, merendahkan dan perilaku agresif, yang dimulai sejak
anak-anak awal dan diarahkan kepada orang lain. Orang dengan gangguan ini
kemungkinan menghina atau merendahkan orang lain dan biasanya telah mengancam
atau menghukum orang lain dengan kasar yang tidak lazimnya, terutama anak-anak.
Pada umumnya, orang dengan gangguan kepribadian sadistik merasa tertarik dengan
kekejaman, senjata, cidera, atau penyiksaan. Untuk dimasukkan dalam kategori
ini, orang tersebut tidak termotivasi semata-mata oleh keinginan untuk
mendapatkan rangsangan seksual dari perilaku mereka; jika termotivasi demikian,
parafilia dari sadisme seksual harus didiagnosis.
Kesimpulan
Dari uraian di atas maka dapat
dismpulkan bahwa siapa saja berpotensi untuk mengalami gangguan kepribadian.
Karena gangguan kepribadian tidak saja disebabkan oleh faktor genetika (dapat
diturunkan), tapi juga dipengaruhi oleh faktor temperamental, faktor biologis
(hormon, neurotransmitter dan elektrofisiologi), dan faktor psikoanalitik
(yaitu adanya fiksasi pada salah satu tahap di masa perkembangan psikoseksual
dan juga tergantung dari mekanisme pertahanan ego orang yang bersangkutan).
Dalam DSM-IV, gangguan kepribadian
dibagi menjadi tiga kelompok dan masing-masing kelompok terdapat beberapa
gangguan kepribadian dengan karakteristik yang khas dan berbeda-beda satu sama
lain. Hampir semua gangguan kepribadian dapat disembuhkan baik melalui
psikoterapi (terapi kejiwaan) maupun farmakoterapi (terapi obat-obatan), dengan
teknik penyembuhan yang berbeda-beda untuk masing-masing gangguan kepribadian.
Daftar
pustaka
Kaplan
& Saddock, 1997, Sinopsis Psikiatri, Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri
Klinis, Edisi ke-7, jilid 2, Binarupa Aksara, Jakarta.
Sri
Mulyani Martaniah, MA, Prof. Dr. 1999, Handout Psikologi Abnormal, Yogyakarta.
Maslim,
Rusdi, 2001, Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas dari PPDGJ III,
Jakarta.
Nida
UI Hasanat, 2004, Print out Personality Disorder, Yogyakarta.
Komentar
Posting Komentar