Kho yang terbuang
Suatu masa saat duduk-duduk di emperan asrama seorang kawan bertanya, "Khotim diterima Akper, Khotim kerja di Akper. Bagaimana pertimbangannya kok Khotim bisa diterima di Akper?" dengan nada bertanya seorang kawan mengeluh. "Saya tidak tahu, yang punya kewenangan adalah pimpinan", sahutku.
sampai suatu masa lagi tiba-tiba Kho menghilang, tak terdengar kabarnya. Andai seorang kawan tidak bercerita kalau Kho telah 'pergi', mungkin ku akan cuek dan tak akan pernah tahu kemana ia gerangan.
dan disuatu masa yang gerimis, ku coba hubungi dia.
"Halo, Assalamu'alaikum. Bremma kabharra Kho?"
"Tidak baik, Pak" sahutmu dari seberang.
"Tidak baik gimana Kho?"
"Ya, tidak baik Pak. Masih sakit hati saya!". kamu menimpali.
"Sakit hati kenapa?". tanyaku.
"Mellang, Pak?"
"Gimana dulu, ceritanya?"
"Gak ada cerita, Pak. Sudah ditutup!
"Ya, kalau sudah ditutup, jangan sakit hati lagi, Kho. Tidak boleh ada sakit hati. Ikhlaskan saja".
"Sekarang saya pergi besoknya sudah ada yang datang" tukasmu menimpali.
"Ya. Mekanismenya kan hanya pimpinan yang tahu, kawan?". jawabku menimpali.
Ku lanjutkan lagi:
"Kamu tahu Kho, kamu dengan Meithun sama kok. sama-sama "bodohnya" (sorry). tapi hanya satu (1) yang membedakan. itupun kata-kata belakangnya yang beda. tapi itu yang membuatnya sangat berbeda. Kalau Meithun Multi Talent. sedangkan kamu Multi Pengko".
"Kalau ada salah mohon dimaafkan, ya"
"Iya pak!"
"Kho, Jangan kembali ke Akper. Kamu gak cocok di Akper. kamu cocok di tempat tersembunyi, tempat sunyi. kesunyian adalah jodohmu. Bukankah hantu asrama selalu berkumpul di kamarmu saat kamu 'bersembunyi' bersamanya?
"Hahahahahah, Bapak ada-ada saja!"
"Semoga kita bertemu lagi dalam kebahagiaan yang lain, di suatu masa yang berbeda pula".
"Selamat jalan, Kho".
"Selamat jalan, kawanku!"
ini kisah nytakah?
BalasHapusyes. itu kisah nyata vin
Hapus