HILANGNYA NILAI KEJUJURAN
KITA semua pasti ikut merasa prihatin atas nasib yang dialami siswa sekolah dasar AL dan kedua orangtuanya Siami serta Widodo. Karena sikap jujur mereka untuk menyatakan ketidakbenaran atas pelaksanaan ujian nasional, malah mereka akhirnya dinyatakan bersalah.
Orangtua AL dianggap mencoreng nama baik sekolah. Para orangtua yang lain menyalahkan orangtua AL yang mempersoalkan adanya permintaan guru sekolah yang memerintahkan AL membagi jawaban ujian nasional kepada murid-murid yang lain.
Ini persoalan mendasar yang tidak bisa dianggap enteng. Betapa nilai-nilai kejujuran sudah begitu terpuruknya pada bangsa ini. Kita tidak lagi bisa membedakan antara yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk.
Nilai sepertinya sudah terbalik-balik pada bangsa ini. Orang yang salah bisa menjadi benar, sementara orang yang benar bisa dianggap salah. Itu bukan hanya terjadi pada kasus di Gadelsari Barat, Surabaya, tetapi sudah menjadi praktik umum yang kita lihat setiap hari.
“Jujur Itu Langgeng”
“Kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana.”
Sekitar 160 Kepala Daerah, menurut Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, harus berhubungan dengan persoalan hukum karena korupsi. Korupsi memang terjadi karena adanya penyalahgunaan terhadap wewenang yang dimiliki. Kekuasaan itu bukan dipakai untuk kepentingan rakyat banyak, tetapi untuk memperkaya diri sendiri.
Itulah yang juga terjadi pada para anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Mereka menjadi pribadi yang rakus dan tidak pernah kenyang memakan uang rakyat, karena setelah reformasi kekuasaan yang dimiliki legislatif begitu besarnya. Bahkan penentuan penggunaan anggaran pun berpindah dari pemerintah ke Badan Anggaran DPR.
arti sebuah kejujuran :Seorang Menteri Pertahanan di Korea Selatan tidak merasa rendah diri ketika mobil pribadinya sudah berusia 15 tahun. Bagi sang menteri pilihan untuk menjadi Menteri Pertahanan sudah merupakan sebuah kehormatan yang diberikan kepada dirinya.
Teladan yang diberikan para Presiden Korea Selatan. Presiden Lee Myung-bo misalnya sudah menuliskan surat wasiat yang menghibahkan seluruh kekayaan yang didapat ketika menjabat sebagai eksekutif Hyundai kepada negara. Bahkan anak-anaknya ia nilai tidak berhak menikmati kekayaannya dan harus mencari sendiri dari kerja keras mereka.
Komentar
Posting Komentar